Perfilman tanah air yang kental dengan nuansa keislaman tidak begitu banyak diminati oleh masyarakat terutama para kaula muda yang lebih menggandrungi cerita-cerita horor yang cenderung mempertontonkan aurat. Hal ini saya saksikan sendiri ketika ingin menyaksikan film Dalam Mihrab Cinta di salah satu bioskop di wilayah BSD, ternyata kursi di teater film horor indonesia hampir penuh, berbeda sekali dengan teater film islami yang masih lengang, sepi peminat.
Memilih menyaksikan Dalam Mihrab cinta, dengan harapan banyak hal positif yang dapat dijadikan ibrah (hikmah) dan atmosfer qur’ani untuk memenuhi ruang hati. Dalam openingnya, film ini sungguh dalam melukai hati saya. Istri saya yang selama enam tahun mengenyam pendidikan di pesantren memang tidak menjadikannya manusia yang tidak pernah khilaf. Tetapi menurutnya pesantren bukanlah tempat yang menghalalkan main hakim sendiri. Bukan tempat yang sarat dengan kekerasan. Bukan tempat yang dipimpin oleh orang-orang yang pendek akalnya, seperti digambarkan dalam film tersebut. Seharusnya tidak yang seperti demikian itu pesantren dicitrakan. Masya Allah!!!
Maliiinggg….!!!!Pencuriii……!!!!! Itu menjadi awal dari film tersebut. Menunjukkan bagaimana para petugas keamanan di pesantren mencoba menangkap oknum yang di anggap sebagai pencuri di lingkungan pondok mereka. Penangkapan orang yang di tuduhkan menjadi penjahat dan proses menghakimi sendiri sepertinya tidak pernah ada yang terjadi di lingkungan pesantren yang sebenarnya. Saya sih bilangnya ini Lebaayy banget… Efek negatifnya, masyarakat bisa saja beranggapan bahwa lingkungan pesantren itu nggak bagus. Nggak ada proses penyelidikan terlebih dahulu terhadap tindak kejahatan. Main hakim sendiri.
Didasari rasa cemburu yang menyempitkan pikiran dan hati, Burhan tega memfitnah sahabatnya sendiri Syamsul Hadi. Bahkan Burhan pun berani bersumpah atas nama Tuhan saat memfitnahnya. Cobaan berat yang di alami oleh Syamsul Hadi itu memang terasa sangat berat di awalnya. Bahkan keluarga sendiri pun tidak mensupport dirinya. Hingga akhirnya dia pun terpaksa melakukan jalan pintas untuk bertahan hidup di tengah kerasnya perjuangan di ibukota sendirian. Mencopet.
Karena memang pada dasarnya seorang Syamsul Hadi ini adalah orang yang berakhlak baik, konflik batin dalam dirinya lah yang membuatnya bertobat melakukan kesalah tersebut. Dan saat itu pula lah Allah membukakan pintu rejeki yang hala baginya dengan menjadi pendakwah di lingkungan masyarakat, bahkan sampai ke layar kaca. CUKUP….!!! Saya nggak mau cerita terlalu mendetail tentang film ini, nanti malah nggak pada nonton, kasian produsernya, nanti malah nggak mau bikin film yang berbobot lagi. Beberapa point bisa saya dapatkan dari film yang di angkat dari Novel Habiburahman El Shirazy ini:
- Tidak semua santri di Pesantren memiliki akhlak yang baik, ini di tunjukkan oleh peran tokoh Burhan.
- Santri terbaik di sebuah pemondokan bisa berhasil menjadi seorang mubaligh yang di cintai masyarakat jika dia diberikan kesempatan, walaupun di tidak pernah menamatkan pendidikannya di Pesantren tersebut.
- Tekad juang yang tinggi dari seorang pencopet bisa membuat orang yang putus asa menjadi bersemangat menjalani kehidupannya, dan ia pun berhasil menjadi tokoh yang di cintai masyarakat.
- Allah maha mendengar dan Mengetahui dari apa yang terjadi terhadap diri kita. Laknat dan karunia dari Allah pasti tidak akan di berikan kepada orang yang salah.
- Semua orang pernah melakukan kekhilafan yang buruk di masa lalunya, tapi itu sebaiknya di jadikan catatan untuk selalu memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan yang telah berlalu.
- Kasih ibu tidak akan pernah henti terhadap anak yang di cintainya, walaupun telah terpisah sekian lama tanpa kabar.
- Jangan main hakim sendiri dan memutuskan suatu perkara hanya dari satu sudut pandang saja. Bisa jadi hasil akhir keputusan yang di ambil malah akan sangat merugikan orang yang sama sekali tidak bersalah. Lakukan proses tabayyun yang baik dan benar sesuai syariat.
- Asmirandah….kau cantik sekali dengan jilbabmu….

Leave a comment
Comments feed for this article